ketika arus kata-kata mengalir begitu deras
December 8, 2010 at 2:00 pm · Filed under catatan, keluarga and tagged: rancabolang
Jalan Rancabolang tampak letih sore itu. Entah berapa bulan lamanya, kendaraan proyek mulai kembali hilir mudik melintasi jalan yang menghubungkan Kompleks Margahayu Raya dengan kawasan Ciwastra itu. Permukaan jalan yang awalnya mulus mulai kusam dan bergelombang. Debu-debu pun beterbangan liar mencari korban para pengemudi motor dan pejalan kaki. Sesekali tenang, lantas liar lagi mengikuti irama angin. Sore yang kering, matahari mulai redup. Malam sudah bersiap melahapnya.
Proyek pembangunan perumahan di kawasan Rancabolang memang tak pernah habis. Hamparan sawah yang awalnya terlihat di kiri kanan jalan, kini berubah jadi tanah lapang. Ruang terbuka hijau di Jalan Rancabolang nyaris musnah. Sejauh mata memandang, hanya ada hamparan tanah kering yang siap ditumbuhi rumah-rumah mewah.
Menjelang magrib, deru mesin bechoe terdengar keras diiringi teriakan para kuli bangunan. Alat berat itu sibuk menutupi lahan sawah dengan tanah hitam untuk dijadikan fondasi rumah. Gemuruhnya terasa hingga ke tengah jalan. Sejenak mesin itu berhenti bekerja dan suasana pun hening. Lantas, beberapa saat kemudian, kembali menyala, menuntaskan pekerjaan hari itu.
Seperti biasa, setiap sore begini, saya selalu membawa si kecil Gisavo ke Jalan Rancabolang sekadar menyaksikan fenomena senja. Lokasi favorit kami berdua adalah sebuah hamparan sawah tidak jauh dari depan Kompleks Perumahan Bumi Persada. Dari situ, matahari terbenam biasanya terlihat jelas. Perubahan warna langit pun begitu kentara. Kami biasanya berdiri di pinggir sawah tanpa mengucap sepatah kata pun. Tatapan kami hanya tertuju pada kaki langit.
Toh keinginan kami melihat senja kandas. Hamparan sawah favorit kami sudah dipenuhi gundukan tanah. Selain itu, sebuah mesin bechoe berdiri kokoh menghalangi pemandangan langit sebelah barat. Gisavo terdiam di pinggir jalan. Tatapan matanya tak fokus. Matanya liar mencari matahari, sekaligus cara kerja bechoe. Selain itu, pikirannya juga seperti berkelana mencari tahu ke mana hamparan sawah yang dulu menjadi tempatnya bermain.
Setahun lalu lokasi proyek itu merupakan hamparan sawah luas. Di sanalah awal mula Gisavo mengenali senja, sebuah fenomena alam yang sangat saya kagumi. Setahun lalu, hampir setiap hari kami mendatangi tempat itu. Menyaksikan proses perubahan warna langit yang semula biru muda menjadi agak kemerah-merahan. Awalnya Gisavo bingung dan bosan. Namun lama-lama senja mulai merasuki jiwanya.
Kini, di hamparan sawah itu ia tak lagi melihat senja. Pertanyaan demi pertanyaan terus mengalir dari mulut kecilnya. Ia ingin mencari kejelasan atas kebingungan yang menghinggapinya sore itu. Kebingungan tentang proyek, hilangnya senja, dan bergantinya sawah menjadi tanah hitam. Saya menjelaskan satu per satu semua pertanyaannya. Meski saya tahu, semua pertanyaan yang diajukannya mengarah pada satu jawaban. Ya,sawah dan senja tak terlihat lagi karena proyek perumahan.
Gisavo mengangguk, seolah mengerti penjelasan saya. Ia masih saja menatap langit sebelah barat. Bechoe di hadapannya berhenti meraung. Kuli bangunan bersiap pulang. Hari semakin sore. Tiba-tiba langit berubah kelam. Sebentar lagi malam. Saya menggenggam tangan Gisavo, mengajaknya pulang. “Sudah, di sini tak ada lagi senja,” saya berucap sambil menariknya menjauhi tanah hitam.
December 8, 2010 at 1:57 pm · Filed under cerpen, keluarga
Lima jari tangan kiri Gisavo tampak menggenggam leher biola kecil yang terbuat dari kayu mapel. Bocah laki-laki berusia enam tahun itu kemudian meletakkan badan biola yang menyerupai sebuah jam pasir di atas bahu kirinya. Sejurus kemudian, dagu mungilnya ditekankan pada penyangga di bagian kiri atas badan biola. Alat musik gesek itu pun diapitnya dengan dagu dan pundak kiri.
“Pak, Gisa mau main biola ya,” kata Gisa, nama kecil bocah itu, kepada ayahnya yang baru saja pulang. Dua bola matanya tampak berbinar-binar. Sepertinya ia sangat ingin memperlihatkan hobi barunya itu.
“Boleh, nanti bapak dengerin ya. Sok, Gisa mau main lagu apa?” sang ayah duduk persis di depan anaknya. Ia urung memasuki kamar, mengganti bajunya yang kumal setelah seharian diterpa angin kering.
“Sebentar ya pak,” kata Gisavo.
“Siap!” jawab sang Ayah.
Tak lama berselang, tangan kanan Gisavo mengambil busur biola, sebuah alat gesek yang terbuat dari batang kayu pernambuco dan helai-helai rambut kuda putih. Didekatkannya busur biola itu pada salah satu senar yang merentang kencang di leher biola. Lalu, digeseknya perlahan-lahan hingga mengeluarkan bunyi . Tanpa melepas gesekan busur biola pada senar, ia menjelaskan nada apa yang dimainkan.
“Yang tadi itu kunci G Pak,” kata Gisa. Sang Ayah mengangguk. Bocah yang saat ini duduk di kelas 1 SD itu melanjutkan aksinya. Ia menggesekkan lagi busur biola pada senar lainnya. Kali ini bunyinya terdengar lebih tinggi.
“Itu kunci apa?” tanya sang Ayah.
“Itu E pak,” jawab Gisavo mantap. Sang ayah kembali mengangguk. Tak ada maksud mengetes kepiawaian anaknya mengenal kunci dan nada. Ia benar-benar tidak tahu nada yang dimainkan anaknya itu. Meski cukup mahir bermain gitar, untuk persoalan nada dan kunci, ia sama sekali buta.
Gisavo kemudian menggesek dua senar berikutnya. Empat senar biola yang konon awalnya terbuat dari usus domba dicampur logam itu habis digesek satu per satu. Ia kemudian terdiam.
“Udah pak,” kata Gisa.
“Jangan dulu, bapak mau denger Gisa main satu lagu,” bujuk sang ayah.
“Satu lagu ya pak? Boleh,” bocah itu menjawab tantangan ayahnya.
Empat jari kecilnya kemudian menari-nari di atas senar biola. Tak jelas lagu apa yang dimainkan. Nada yang keluar dari biola itu pun terdengar sumbang. Sang ayah tersenyum. Meski musik yang dimainkan anaknya tak beraturan, ia tetap bertepuk. Bocah itu pun menyudahi penampilannya. Sang ayah lantas memeluknya erat-erat.
“Wah, Gisa hebat, udah bisa mainin satu lagu pake biola,” puji sang Ayah. Gisavo melepas pelukan ayahnya.
“Pak, Gisa boleh main dulu?” pintanya. Saat itu, waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB. “Jangan lama-lama ya. Nanti kalau jarum panjang sudah ke angka 6, Gisa tidur,” jawab sang Ayah. Gisa mengangguk. Ia memasuki kamar dan menumpahkan seluruh mainannya.
Sejak usia 4 tahun, Gisavo memang sudah menyukai biola. Setiap kali mendengar suara biola yang dimainkan dengan tempo lambat, ia terdiam menikmatinya. Tak heran, saat mengikuti les nyanyi di salah satu sekolah musik terkenal di Bandung, bocah kelahiran Agustus 2004 itu kerap memperhatikan orang-orang yang memegang biola, atau memainkannya. Melihat kuatnya keinginan dia bermain biola, sang kakek berinisiatif membelikan sebuah biola ukuran sedang.
Di sela-sela les nyanyi setiap Sabtu siang, Gisavo berlatih biola. Meski tangan kirinya belum bisa menjangkau hingga gulungan kepala biola, ia tetap tekun berlatih. Semua pelajaran biola yang diajarkan gurunya dilahap habis. Hampir setiap malam, ia berlatih menggesek biola di rumah bersama ibunya. Namun setelah beberapa kali latihan menggesek, ia harus mulai berlatih memainkan jari. Karena biola yang dipakainya berlatih masih terlalu besar, ibunya membelikan lagi Gisavo sebuah biola ukuran kecil.
Tanpa mengganti baju yang dikenakannya sejak pagi, sang ayah masih duduk memperhatikan Gisavo bermain mobil hotwheels. Pikirannya menerawang, membayangkan anak satu-satunya itu beranjak dewasa, dan tampil memainkan biola di sebuah konser akbar. Betapa tampannya dia mengenakan jas, dasi, dan memegang biola klasik, disaksikan ribuan penggemar.
“Ah, tak perlu sepiawai Idris Sardi, Yehudi Menuhin, Itzhak Perlman, atau Vanessa Mae, apalagi komposer macam Johann Sebastian Bach atau Wolfgang Amadeus Mozart. Cukuplah menjadi Gisavo yang bisa membuat orang tuanya bangga,” pikirnya.
Tak terasa, jarum panjang jam di dinding menunjukkan angka 6. Sudah pukul 21.30 WIB rupanya. Gisavo harus tidur.
“Gisa, udah setengah sepuluh. Lihat coba jarum panjangnya!” teriak sang Ayah.
“Iya pak, sebentar lagi,” sahut Gisavo.
“Nanti mamah bikinin susu, Gisa langsung minum ya. Setelah itu, sikat gigi, terus tidur,” ibunya menimpali.
Lebih dari 10 menit waktu yang dijanjikan, bocah itu kemudian tidur ditemani ibunya. Besok pagi, dia harus sekolah. Sang ayah melanjutkan aktivitasnya, cuci muka, ganti baju, menyeduh kopi, mengisap rokok, lantas memainkan HP hingga larut malam. Tugas berat menantinya beberapa tahun ke depan. Menyediakan kebutuhan anaknya yang semakin tumbuh dewasa.
July 23, 2009 at 8:28 pm · Filed under keluarga
Gisavo sungguh luar biasa. Ia berhasil mengatasi ketegangannya saat tampil menyanyi pada acara launching produk Mountea Starfruit rasa belimbing, di Bandung Indah Plaza (BIP), Minggu (19/7) sore. Padahal saat itu adalah kali pertama dia manggung di depan penonton yang lumayan banyak. Belum lagi, ia juga harus tampil bersama sejumlah penyanyi dewasa yang jelas-jelas bukan komunitasnya. Namun, dengan suara kanak-kanaknya yang khas, Gisavo sukses meluncurkan dua lagu. Lagu pertama berjudul “Aku Bisa” sedangkan lagu kedua berjudul “Cinta untuk Mama”. Meski ada beberapa nada yang sedikit meleset, secara keseluruhan penampilannya cukup memukau penonton. Tepukan hangat pun terdengar begitu dia merampungkan dua lagu.
Dua minggu lalu ajakan manggung di BIP memang sudah dilontarkan Kang Deni, guru vokal Gisavo di Purwa Caraka Music Studio (PCMS) Jalan Sriwijaya. Saat itu, Kang Deni memberi kabar mengenai rencananya mengajak Gisavo manggung di BIP pada Minggu (19/7). Meski belum mengetahui persis dalam rangka apa anakku tampil, aku mengiyakan ajakan tersebut. Gisavo pun begitu. Dia sangat bersemangat begitu mengetahui bakal naik panggung lagi setelah lama tidak tampil di depan umum. “Asyik, Gisa nyanyi di panggung lagi pak?” ujar anakku sumringah. “Iya, nanti Gisa manggung lagi sama Oom Deni. Gisa seneng kan naik panggung?” jawabku sambil bertanya. Dia mengangguk.
Kang Deni memang rajin mengajak anakku mentas. Entah lantaran usia anakku yang masih kecil ditambah badannya yang mungil atau memang suaranya bagus, aku tidak tahu. Toh, melihat keberaniannya menyanyi di atas panggung dan ditonton orang banyak, aku sudah cukup puas. “Gisa nanti nyanyi dua lagu: Aku Bisa dan Cinta untuk Mama,” kata Kang Deni, di PCMS Sriwijaya usai mengajari anakku menyanyi. Aku sempat kaget dengan rencana Kang Deni menyuruh Gisavo menyanyikan “Aku Bisa” mengingat lagu itu terbilang cukup sulit, baik dari sisi syair, maupun nada. Selain itu, Gisavo juga baru satu kali belajar menyanyikan lagu itu. Kalau lagu “Cinta untuk Mama” tak terlalu aku pikirkan. Dia sudah sangat hapal betul lagu itu. Untuk memudahkan latihan anakku, Kang Deni merekamkan minus one lagu Aku Bisa. Sejak saat itu, anakku mulai berlatih di rumah, mendengarkan teks, lantas menyanyikannya diiringi musik.
Sabtu (11/7) lalu, seperti biasa anakku kembali berlatih vokal di PCMS Sriwijaya. Setelah sebelumnya selama satu minggu berlatih lagu “Aku Bisa”, Gisavo sudah mulai mahir, meski ada beberapa kata yang salah. Latihan berjalan mulus. Tingkat kesalahan Gisavo dalam menyanyikan lagu tersebut tidak terlalu banyak. Kang Deni pun mengingatkan lagi tentang rencana pentas di BIP. Tapi, lagi-lagi dia tidak menyebutkan acaranya. “Nanti hari Minggu jangan lupa. Acaranya siang,” kata Kang Deni. “Siap Kang,” jawabku. “Gisa masih mau naik panggung kan?” tanyaku memastikan. Anakku menjawab mantap. “Iya pak, Gisa masih mau naik panggung,” jawab Gisavo.
Ada kisah lucu saat Gisavo diminta berlatih bersama di sebuah studio Jalan Cijagra bersama Kang Deni Cs. Melihat banyaknya pemain band yang tidak dia kenal, Gisavo tiba-tiba mogok berlatih. Aku dan istriku berusaha membujuknya agar mau berlatih diiringi musik band. Namun, Gisavo bergeming, tetap tak mau bernyanyi. Dipaksa pun percuma. Dia malah menangis saat berlatih lagu “Cinta untuk Mama”. Akhirnya, kami pulang. Di rumah, aku menasihatinya agar tidak mogok bernyanyi saat tampil di BIP. Istriku mengiming-imingi dia hadiah. Hampir seisi rumah juga menjanjikan hadiah jika Gisavo tampil bagus. Beberapa saat, Gisavo termenung. Dengan iming-iming sejumlah hadiah, Gisavo pun berjanji akan tampil bagus pada hari H.
Hari yang dinantikan tiba. Selain aku dan istri, bapak, adik ipar, serta mertuaku juga ikut menonton penampilan Gisavo. Melihat gebyar acara launching produk Mountea rasa belimbing yang cukup meriah, aku sempat ragu apakah Gisa masih mau tampil atau tidak. Selain itu, acara launching tersebut tampaknya tak ada kaitannya dengan PCMS. Gisavo murni diajak manggung oleh Kang Deni. “Gisa masih mau nyanyi kan? Gak takut kan?” tanyaku. Beruntung, dia masih menjawab mau. Namun, tetap saja aku tegang. Khawatir Gisavo mogok tampil seperti saat berlatih bersama pemain band. Istriku juga sama. Dia tampak tegang, duduk di pinggir panggung menemani Gisavo.
Sebelum Gisavo tampil, Kang Deni bersama kawan-kawannya menjadi band pembuka. Kalau tidak salah, mereka menyanyikan empat lagu. Di pinggir panggung, Gisavo mulai pucat. Namun, dia tetap mengaku siap menyanyi. Mungkin bayangan hadiah sudah di depan mata. Selesai menyanyi, Kang Deni memanggil nama Gisavo. Ya, Gisavo pun berjalan di atas panggung. Langkahnya tampak mantap. Ia terlihat tampan dengan kemeja kuning dan celana jeans hitam. “Gisavo mau nyanyi lagu apa?” tanya Kang Deni. “Aku Bisa,” jawab Gisavo. Musik mulai terdengar. Kepala Gisavo bergerak ke kiri dan kanan, mengikuti irama lagu. Ketegangan pun cair. Penonton bertepuk begitu Gisavo menyelesaikan dua lagu. Dalam perjalanan pulang, sejumlah ibu-ibu menyalaminya. Ah, anakku memang luar biasa.
July 23, 2009 at 8:05 pm · Filed under keluarga
Trans 7 punya tayangan film anak-anak yang diputar selama 30 menit setiap hari pukul 12.30. Film itu berjudul Si Bolang, singkatan dari Bocah Petualang. Sosok Si Bolang adalah sebutan dari seorang anak setempat yang memimpin teman-temannya berpetualang di sekitar tempat tinggalnya. Di setiap episodenya, tokoh itu selalu berganti. Namun, ia tetap digambarkan sebagai bocah yang berusia sekitar 12 tahun. Acara Si Bolang memang terasa bagaikan oase di tengah gersangnya dunia anak-anak di televisi. Si bolang mampu menampilkan satu sisi dunia anak yang sudah lama hilang.
Nah, hampir di setiap episodenya, bocah-bocah dan tokoh Si Bolang akan menampilkan petualangan-petualangan seru. Di sana, bocah-bocah seolah bersatu dengan alam, melakukan kegiatan yang berbau alam. Mereka berburu, memancing, meniti pematang, naik pohon, mencari burung, meski sesekali juga berpetualang di kota-kota besar. Rupanya, Gisavo, anakku sangat senang menonton film itu. Begitu azan Zuhur berkumandang, biasanya dia langsung duduk rapi di atas karpet dengan mata tertuju ke layar televisi, menunggu tayangan Si Bolang. Saking seringnya, ia jadi hapal jingle tayangan Si Bolang. “Bolang si bolang, si bocah petualang,” teriak anakku melantunkan jingle film Si Bolang.
Film Si Bolang rupanya mengilhami khayalan anakku. Ia tiba-tiba menyebut dirinya sebagai Si Bolang. Bukan lantaran sering berpetualang seperti Si Bolang, tapi karena dia sering mencari belalang di mana saja, terutama di lapangan rumput dekat rumah mertua. “Bapak, Gisa juga sekarang jadi Si bolang: Bocah pencari belalang,” ujarnya sambil membawa botol air mineral kosong yang sudah diisi belalang. Ya, setiap hari hobi Gisavo memang mencari belalang. Hampir setiap waktu, entah itu saat hendak pergi sekolah atau sepulang sekolah, dia selalu mendatangi rerumputan. Tubuh kecilnya mengendap-endap di antara rerumputan. Satu, dua, tiga, empat belalang didapat. Dengan sigap, ia masukkan belalang-belalang tersebut ke dalam botol air mineral plastik. Tentu saja botol itu sudah dilubangi agar udara bisa masuk sehingga serangga herbivora yang berhasil ditangkap itu tidak mati.
Belalang yang sudah ditangkap itu lantas dipamerkan ke seluruh penghuni rumah. Beberapa di antaranya dikeluarkan dari botol untuk dimainkan. Botol berisi belalang itu bahkan kerap dibawanya tidur. Tak heran, saat hendak tidur, aku kerap mendengar suara-suara aneh seperti benda berjatuhan di atas plastik. Selidik punya selidik, suara itu berasal dari belalang hasil tangkapan anakku yang berloncatan di dalam botol. Beberapa hari disimpan di dalam botol, belalang itu tentu saja mati. Nah, jika sudah mati, seluruh hewan itu menjadi makanan ikan lele yang ada di kolam mertuaku.
Hmmm, hobi anakku memang aneh. Dia betul-betul penyuka binatang. Tak hanya belalang, serangga pun tak luput dimainkannya. Kalau ikan, waah, jangan ditanya lagi. Kucing, hmmmm, itu binatang favoritnya. Seandainya tak dilarang, Gisavo juga sempat mengaku ingin memelihara ular. Di kebun binatang, hampir seluruh binatang ingin ia pegang. Untung, sebelum hal itu dilakukannya, Gisavo selalu bertanya apakah hewan yang didekatinya termasuk buas atau jinak. Kalau disebut buas ia urung mendekati binatang itu. Tapi kalau binatang itu dibilang jinak, Gisavo langsung memburunya. Begitulah Gisavo Si Bolang, bocah pencari belalang. Bagi bocah yang sebentar lagi berusia 5 tahun itu, sepertinya tiada hari tanpa binatang. Apalagi yang namanya belalang. “Bolang si bolang, si bocah pencari belalang…” senandung Gisavo mengubah syair lagu Si bolang.
June 24, 2009 at 6:05 pm · Filed under catatan
Idealnya jam publik dipasang sebagai petunjuk waktu bagi masyarakat di suatu daerah. Namun di Kota Bandung lain lagi. Saat ini, keberadaan jam publik seolah hanya sebatas pajangan, mati segan hidup tak mau. Padahal, sebuah jam bisa menjadi ikon kota. Sebut saja di Bukitinggi dengan jam gadangnya. Atau di London, dengan menara jam setinggi 96 meter yang diberi nama “Big Ben”.
Nah, di Jalan Abdul Rivai Kota Bandung, jam publik berbentuk tugu dengan ukuran lebih dari lima meter tersebut tampak selalu mati. Dari empat buah jam dinding di setiap sisinya, tak satu pun yang aktif sesuai waktu. Logika kerjanya sama, putaran sempurna. Sebagai informasi, jam publik di taman itu masih analog yang masih menggunakan jarum jam panjang dan pendek.
Kemarin, jam publik itu masing-masing menunjukkan waktu yang berbeda. Jam ke-1 menunjukkan pukul 10.34, jam ke-2 dan ke-3 menunjukkan arah pukul 10.36 dan 10.30, sedangkan jam ke-4 menunjukkan pukul 10.13. Padahal, saat mengambil foto jam publik itu, waktu menunjukkan pukul 10.54. Kendati sama-sama menunjukkan pukul 10, keempat jam itu berjalan tidak kompak sebagaimana seharusnya pedoman waktu untuk publik kota kembang.
Nasib serupa dialami jam di dua sudut menara Gedung Bank Mandiri Jalan Asia Afrika yang didesain oleh orang Belanda. Menara jam yang berdiri kokoh di bangunan bekas bagian penjara Banceuy itu juga mati. Menurut Rusmiati (42), seorang penjual ketupat yang biasa mangkal di seputar Jalan Banceuy, jam dinding itu sudah mati sejak puluhan tahun silam. “Saumur teteh, jam nu di gedong eta teh tara pernah bener, tos puluhan taun,” jelas Rusmiati sambil menunjukkan jam di menara itu.
Selain di kedua lokasi itu, dulu di persimpangan Jalan Cikapayang, persis di bawah Jalan Layang Pasupati itu ada jam digital yang menunjukkan waktu di daerah Bandung. Namun kini di lokasi yang sama berdiri kokoh tugu provokatif Bandung Emerging Creative City (BECC). Pada tugu itu terdapat sebuah patung yang berpose menunduk di atas kedua lututnya. Di belakangnya terdapat empat pilar bertuliskan “bdg” ukuran besar dan tulisan “bandung emerging creative city” dengan warna kontras. Tempat itu sering menjadi tempat berkumpulnya anak muda untuk bergaul di tengah kota Parijs van Java.
Semoga saja matinya jam publik di Kota Bandung bukan sebuah simbol budaya jam karet para pejabat di kembang.
Next entries »